RSS

Curiosity #70: Fixed in Palembang

Oh my God Julie…Thank you so much for this totally awesome writing. Tulisan kamu seolah punya “nyawa”, “apa adanya” tapi tetap saja “indah” I love it 🙂

Wandering Cabinet

Henna decorated my hand like icing. A six-year-old child held up a design on a smartphone so the henna artist could use it as a reference, but for whatever reason my face drew more attention. Foreigners didn’t come often to Lubuk Linggau. The henna artist was a delicate-featured girl of 16, not yet a woman: more like a solitary limb with a sumptuousness of its own. She knew nothing of her own beauty, only of curiosity betrayed by long glances at older members of her own sex, blue eyeshadow.

Reclining next to her on the bed was a woman I earlier saw floating around the house. She was an aunt of the bride-to-be, unveiled for the time being, hand propping up an unblemished face framed by luscious hair that—I knew—she had let down for me. I never asked her age. Fifty. Skin-tight jeans strained around thigh propped on thigh, and…

Lihat pos aslinya 1.471 kata lagi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2015 in Philo_Paths

 

Setelah hari itu (1)

Pada saatnya, cinta dengan jumawanya memberitahu kita bahwa ia bukan tentang sesuatu yang terlihat oleh mata tetapi yang terasa hingga ke hati, kan?
Seperti waktu, Sayangku, beberapa jenis kebahagiaan tak bisa diulang, hanya bisa dikenang. Tapi, dirimu bukan sekedar kebahagiaan, tapi sebuah kenyataan yang indah. Bukan begitu?
Saat kukutuk jarak yang mulai tak tahu diri, dengan integral yang jauh, pisahkan kita dengan hitungan geograpis yang memuakkan, tapi semua baik-baik saja asal hati kita tetap dekat, kan?
Pada saatnya, kita akan bersua, bukan hanya selama didunia, tapi kelak juga disurgaNya, itulah ciri esensi jodoh dunia-akherat. Bukankah itu satu dari keinginan kita, iya kan?
Terima kasih, sudah menjadi alasan terindah dalam hidupku, alasan untuk tersenyum, alasan untuk terus berbuat baik, alasan untuk menjadi satu dari ummahat yang dibanggakan Rosul dihadapan para malaikat-Nya, dan seribu satu alasan yang tak terjabarkan oleh lughah manusia.

Rindu kamu, suamiku.

Yogyakarta, 14 April 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2015 in Philo_Paths

 

Untukmu Imamku (H-25)

Untukmu Imamku (H-25)

Dear kekasih.
Kurang dua puluh lima hari menuju hari bahagia itu. Aku rindu. Rindu dalam kesabaran ini. Kesabaran pada saatnya nanti.
Dibawah rinai ini, dibawah langit-langit kamar, dengan jarak yang sejauh ini, aku mencoba mengeja namamu, namaku, nama kita. Bersautan dengan gemericik hujan diluar jendela, membuatku mengucap ribuan syukur kepada Ilahi, karena telah memilihmu menjadi imamku kelak.

Dear kekasih.
Aku tahu aku tidak sempurna. Aku tahu aku kadang terlalu lemah. Hatiku tak begitu kuat. Fikiranku tak begitu bersih. Kadang masalah kecil yang muncul sebelum hari itu tiba menjelma seumpama bayang-bayang yang menghantuiku siang dan malam, membuatku ragu, membuatku takut, membuatku gelisah. Dan membuatku selalu mempertanyakan perasaanmu. Berkali-kali, seolah ingin meyakinkan diri. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2015 in Philo_Paths

 

Entah

Terkadang, lebih baik kita tak perlu tahu
karena dengan tahu kita akan terluka
Mungkin, lebih baik memang tidak perlu tahu
atau pura-pura saja tidak tahu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2015 in Philo_Paths

 

Mungkin Baru sesaat kita bertemu (2)

Mungkin Baru sesaat kita bertemu (2)

Mungkin baru sesaat kita bertemu…

Tapi, bukankah kita tetap dua manusia yang sama: Yang terus belajar saling mengerti dan menyayangi, yang mengeja cinta dengan telunjuk mereka seperti menghitung bintang-bintang malam tempat mimpi-mimpi agung menggantung. Di mataku, kau selalu menjadi salah satu dari bintang-bintang itu, yang selalu semakin terang ketika hari-hari hidupku semakin gelap.

Mungkin baru sesaat kita bertemu…

Dan dengan egoisnya waktu berlalu, hari-hari bergerak, dan kita nantinya akan jadi lebih tua setiap detiknya. Kita akan menua bersama bukan? Seperti deretan kata yang pernah kita ucap tempo hari. Hari-hari indah bersama anak-anak kita, merajut harap bersama keluarga kecil kita. Terima kasih, karena selalu menjadi sesuatu paling mengagumkan dalam hidupku. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Desember 2014 in Philo_Paths

 

Mungkin Baru sesaat kita bertemu (1)

Mungkin Baru sesaat kita bertemu (1)

Mungkin Baru sesaat kita bertemu, mungkin baru sejenak pula kita beranjak dari masa lalu kita masing-masing. Tapi, saat Allah berkata “kun” maka dalam sekejap pulalah sesuatu tersebut berubah sedemikian cepatnya. Mungkin aku belum mengenalmu, seutuhnya. Mungkin aku belum tahu siapa dirimu, sebenarnya. Mungkin aku belum bisa memahamimu, semuanya. Aku belum mengerti arti kata-katamu, aku belum mampu menjadi pendengar yang baik, untuk semua ceritamu, aku belum bisa menjadi seseorang yang kau andalkan, kapanpun kau mau.

Mungkin baru sesaat kita bertemu, mungkin baru hitungan hari kita lalui dengan jarak sejauh ini. Tapi, denganmu, aku ingin menjadi apa saja, dan siapa saja. Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2014 in Philo_Paths

 

Mendekati Allah dengan al-Quran

Mendekati Allah dengan al-Quran

Dikisahkan dari Sa’ad bin Ibrahim dalam sebuah hadistnya, disuatu makan malam pernah Abdurrahman bin Auf dihidangkan makan malam setelah sepanjang siang beliau berpuasa. Ketika itu, beliau sedang membaca firman Allah: “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih.” (QS. Al-Muzammil: 12-13). Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2014 in Philo_Paths